Sungguh tak habis pikir. Mengapa Ahok yang dujuluki “si kafir” itu berani melawan arus. Apalagi di tengah kota yang salah urus. Jakarta. Adakah jurus yang membuat penyandang gelar terhormat “minoritas ganda” itu berani menentang arus?
Risiko orang yang berani melawan arus tentu sangat besar. Bisa-bisa nyawa yang jadi taruhannya. Dan benar, ada-ada saja keinginan orang untuk menghabisi Ahok. Dari demo berjilid-jilid hingga sayembara tidak berperikemanusiaan. Dari cacian dan hujatan keji sampai ancaman tanpa ujung pangkal. Lebih miris lagi, Tuhan yang maha adil pun diajak bertindak seperti yang mereka inginkan.
Sudah pasti para pembaca Seword sering dibuat sewot oleh Ketua FPI Muhammad Rizieq Shihab -selanjutnya supaya lebih terkesan sok akrab disapa dengan Om Bib- yang suka ngotot. Kadang di kamera Tivi pun salah satu matanya tampak melotot. Betapa seringnya ia meminta Ahok dipenjara karena pernyataannya yang dianggap menghina Al-Quran. Betapa semangatnya ia bersama kaumnya meminta-minta polisi menangkap Ahok.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, jika permintaannya itu tidak dikabulkan, mereka mengancam akan membunuh Ahok. Mari dicamkan. Main ancam dengan niatan membunuh orang yang sudah meminta maaf. Ajaran darimanakah itu? Benarkah ajaran dari langit? Atau jangan-jangan hanya ajaran dari langit-langit rumah Om Bib sendiri.
Risiko orang yang berani melawan arus tentu sangat besar. Bisa-bisa nyawa yang jadi taruhannya. Dan benar, ada-ada saja keinginan orang untuk menghabisi Ahok. Dari demo berjilid-jilid hingga sayembara tidak berperikemanusiaan. Dari cacian dan hujatan keji sampai ancaman tanpa ujung pangkal. Lebih miris lagi, Tuhan yang maha adil pun diajak bertindak seperti yang mereka inginkan.
Sudah pasti para pembaca Seword sering dibuat sewot oleh Ketua FPI Muhammad Rizieq Shihab -selanjutnya supaya lebih terkesan sok akrab disapa dengan Om Bib- yang suka ngotot. Kadang di kamera Tivi pun salah satu matanya tampak melotot. Betapa seringnya ia meminta Ahok dipenjara karena pernyataannya yang dianggap menghina Al-Quran. Betapa semangatnya ia bersama kaumnya meminta-minta polisi menangkap Ahok.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, jika permintaannya itu tidak dikabulkan, mereka mengancam akan membunuh Ahok. Mari dicamkan. Main ancam dengan niatan membunuh orang yang sudah meminta maaf. Ajaran darimanakah itu? Benarkah ajaran dari langit? Atau jangan-jangan hanya ajaran dari langit-langit rumah Om Bib sendiri.
Tidak hanya berhenti di situ. Sosok berbadan gempal itu masih merayu Tuhan dengan doa yang tidak kunjung masuk di akal sehat. Tujuannya agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditangkap polisi secepat kilat. Padahal Tuhan saja sepertinya mau memercayai proses hukum yang tengah terjadi. Kok Om Bib ini tega-teganya merayu Tuhan.
Wah, jangan-jangan Tuhan statusnya disamakan dengan teman Kak Emma yang belum kebal dengan rayuan pohon pisang. Dasar Om Bib… Bisa aja deh kamu… Iya, kamu Om Bib. Siapa lagi? Jangan ngelès ah…
Sekarang kembali ke Pak Ahok. Syukurlah, terhadap segala upaya yang mengancam dirinya itu, beliau tetap tenang. Hebatnya pula, Pak Ahok tidak pernah mengeluh. Bahkan kepada Kak Emma sekalipun. Pak Ahok memang beda dalam hal ini. Beliau orang yang taat hukum, dan tidak pernah mangkir dari panggilan polisi.
Wah, jangan-jangan Tuhan statusnya disamakan dengan teman Kak Emma yang belum kebal dengan rayuan pohon pisang. Dasar Om Bib… Bisa aja deh kamu… Iya, kamu Om Bib. Siapa lagi? Jangan ngelès ah…
Sekarang kembali ke Pak Ahok. Syukurlah, terhadap segala upaya yang mengancam dirinya itu, beliau tetap tenang. Hebatnya pula, Pak Ahok tidak pernah mengeluh. Bahkan kepada Kak Emma sekalipun. Pak Ahok memang beda dalam hal ini. Beliau orang yang taat hukum, dan tidak pernah mangkir dari panggilan polisi.
Lain Om Bib lain Pak Tua. Adalah seorang pria yang konon sudah berusia 60 tahun. Ujarannya lebih sadis lagi daripada Om Bib. Masak membuat sandiwara tanpa konsultasi dengan Pak Sandi?
“Bawa kepala Ahok dan kita akan bayar satu milyar!” pekik soraknya. Orang gila saja belum pernah saya dengar bilang begitu. Lha ini, orang yang gamis sekali atributnya, malah berujar seperti itu. Sampai-sampai saya tidak berani mencari tahu dan bertanya identitas agama Pak Tua ini. Khawatir akan membuat malu semua kaum dan Nabi junjungannya. Sebagai gantinya saya hanya pegang jidat sebentar, lalu menyeruput teh hangat gula batu sambil mengingat ungkapan bijak bahwa urip iki mung mampir ngombe -hidup di dunia ini hanya mampir minum.
“Bawa kepala Ahok dan kita akan bayar satu milyar!” pekik soraknya. Orang gila saja belum pernah saya dengar bilang begitu. Lha ini, orang yang gamis sekali atributnya, malah berujar seperti itu. Sampai-sampai saya tidak berani mencari tahu dan bertanya identitas agama Pak Tua ini. Khawatir akan membuat malu semua kaum dan Nabi junjungannya. Sebagai gantinya saya hanya pegang jidat sebentar, lalu menyeruput teh hangat gula batu sambil mengingat ungkapan bijak bahwa urip iki mung mampir ngombe -hidup di dunia ini hanya mampir minum.
Situasi dan kondisi seperti itulah yang dihadapi Pak Ahok ketika membaktikan hidupnya bagi Ibu Pertiwi. Tepat yang diungkapkan di persidangan. Ia berani melawan arus. Arus yang dilawan bukan arus sembarangan, tetapi arus kebencian. Nah, menarik untuk dikuak. Pak Ahok tidak membalas dengan kebencian tetapi dengan jalan berbakti untuk negeri.
Bukti pun mengalir deras, bunga tanda kasih dan cinta memenuhi Balai Kota. Berbeda dengan Om Bib. Jangankan karangan bunga, daun pisang aja tidak rela kalau tertulis namanya. Habib Rizieq. Hahahaha… becanda lho Om Bib…
Ahok berani melawan arus jelas tidak mungkin didasari kalkulasi politik. Keberanian Ahok bersumber dari keyakinannya. Kalaupun harus pakai istilah politik, Ahok memakai politik dari hati. Sebuah pertimbangan dan tindakan politis yang didasari dengan mendengarkan suara hati. Mendengarkan bisikan nurani. Hasilnya adalah hidup mengabdi dengan acintyabhakti.
Sekalipun menjalani hidup seperti itu bisa menghasilkan rasa sakit, karena respon orang yang salah. Namun, sebagaimana disampaikan H.J.M. Nouwen, rasa sakit yang muncul akibat cinta yang mendalam membuat cinta Anda semakin menghasilkan buah. Rupanya Pak Ahok memahami hal tersebut. Maka ia pun tidak ragu untuk mencintai dan bahkan mencintai secara mendalam! Sekalipun untuk mewujudkan rasa cinta yang mendalam itu, harus melawan arus.
Ahok berani melawan arus jelas tidak mungkin didasari kalkulasi politik. Keberanian Ahok bersumber dari keyakinannya. Kalaupun harus pakai istilah politik, Ahok memakai politik dari hati. Sebuah pertimbangan dan tindakan politis yang didasari dengan mendengarkan suara hati. Mendengarkan bisikan nurani. Hasilnya adalah hidup mengabdi dengan acintyabhakti.
Sekalipun menjalani hidup seperti itu bisa menghasilkan rasa sakit, karena respon orang yang salah. Namun, sebagaimana disampaikan H.J.M. Nouwen, rasa sakit yang muncul akibat cinta yang mendalam membuat cinta Anda semakin menghasilkan buah. Rupanya Pak Ahok memahami hal tersebut. Maka ia pun tidak ragu untuk mencintai dan bahkan mencintai secara mendalam! Sekalipun untuk mewujudkan rasa cinta yang mendalam itu, harus melawan arus.






0 coment�rios: