
Peristiwa ini mengingatkan kita akan pengusiran Tengku Zulkarnaen beberapa waktu lalu di tempat yang sama dan kelompok yang sama. Yang pasti mereka menolak ulama dari FPI. Sayangnya pengusiran Tengku Zulkarnaen ditanggapi dengan tantangan bukan mencari suatu resolusi demi menciptakan kedamaian.
Mengapa diusir?
Silakan Anda tonton cuplikan orasi (kotbah) Sobri Lubis pada tautan di bawah tentang Ahmadiyah. Pada waktu itu Sobri Lubis mengatakan bahwa Ahmadiyah harus di bunuh karena menyimpang dari akidah. Dia meneriakkan bahwa mereka harus memerangi Ahmadiyah dan membunuhnya. Diteriakkan juga bahwa halal membunuh Ahmadiyah. Intinya, yang berbeda (dianggap salah) pantas dibunuh, dimusnahkan, dibumi hanguskan dan darahnya halal. Halal matamu tong…
Penting:
Tidak ada alasan manusia membunuh manusia lain. Alasannya jelas, hidup dari Allah, maka hanya Allah saja yang berhak mengambilnya dari manusia.
Kira-kira, jika seseorang yang katanya ulama (pemuka agama) menyerukan pembunuhan, apakah kamu akan dengan gampang menerimanya datang ke tempatmu? Saya tidak tahu menurut Anda, tetapi bagi saya tidak gampang. Demikian juga masyarakat Dayak, tidak ingin orang seperti ini datang ke daerah mereka, karena pasti akan mengkhotbahkan yang sama.
Kalimantan itu terkenal dengan Dayaknya. Tetapi meskipun demikian, di sana bukan hanya orang Dayak. Seperti di daerah lain, Kalimantan sangat terbuka bagi warga dari daerah lain. Di sana ada Batak, Jawa, Sunda, Melayu, dlsb. Kalimantan tempatnya segala suku dapat hidup berdampingan. Di Kalimantan setiap orang bebas memeluk agama mana pun dan melaksanakan ibadahnya. Kalimantan itu damai.
Jadi kalau ada orang seperti Sobri Lubis datang ke Kalimantan dengan status Ketua DPP FPI (organisasi arogan, radikal, rasis, dan ekstremis), mereka pasti menolak. Mereka tentu tidak ingin kedamaian dan keragaman, yang selama ini sudah terjaga dengan baik, terkoyak-koyak oleh seorang Sobri. Anda mau rumah Anda diobrak-abrik? Masih untung hanya diusir, sudah tepat, daripada digebukin.
Menolak FPI bukan berarti menolak Islam
Kalimantan tidak menolak Islam. Buktinya Islam berkembang pesat di sana, agama mayoritas. Tetapi mereka menolak ormas yang mengatasnamakan Islam tetapi selalu membawa perpecahan, kebencian dan kekacauan. Mereka menolak ormas yang anti keragaman. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika membiarkan biang kerusakan menginjakkan kaki di bumi Kalimantan.
Menolak FPI dan yang secingkrangan dengannya bukan berarti menolak Islam. Membubarkan FPI dan yang secingkrangan dengannya bukan berarti membubarkan Islam. Terlalu rendah Islam jika hanya dilihat sekelas FPI. Terlalu lebay kalau menolak FPI dan kawanannya dianggap menolak Islam. Sebab FPI sebenarnya tidak mewakili Islam Indonesia yang damai. Yang saya (non-Islam) kenal, hadapi dan alami, Islam itu rahmatan lil alamin dan saya harap tetap seperti itu.
Efek Pilkada DKI Jakarta
Tetapi tunggu dulu. Ini bukan hanya soal pengusiran, ada kepentingan lain di sini. Setelah efek pengusiran Zulkarnaen beberapa waktu lalu sirna ditelan gegap gempitanya Pilkada DKI, mereka ingin mengulanginya lagi. Mereka menginginkan pengusiran lagi, agar isu ini dapat digoreng dan dimainkan. Jadi ini tidak murni kunjungan seorang DPP FPI.
Pilkada DKI menyisakan luka sangat dalam, tercabiknya kebinekaan dengan kampanye berbau SARA. Pilkada DKI menunjukkan bahwa isu SARA masih sangat laku dan laris dijual dalam proses politik. Dengan demikian dinamika politik seperti di DKI dapat dijadikan acuan untuk merebut kekuasaan di daerah lain dan Indonesia.
Ciri-cirinya sama. Buatlah kegaduhan SARA di suatu daerah. Untuk membuat kegaduhan itu sudah ada alat yang sangat ampuh, yaitu FPI dan yang secingkrangan dengannya. Pengusiran Sobri ini salah satu membuat kegaduhan itu. Kemudian setelah terjadi kegaduhan, lalu muncullah seruan ulama dan Islam dibenci. Dilanjutkan lagi dengan propaganda dahsyatnya kristenisasi di Kalimantan Barat, yang mayoritas Islam tetapi dipimpin seorang Katolik. Ketika tiba saatnya, dikeluarkanlah ayat mujarab merebut kekuasaan, haram memilih pemimpin kafir. (sumber: suara-islam.com dan duniamualaf.blogspot.com) Dari sini, mereka yang tidak tahu apa-apa akan dengan mudah terbakar amarah. Siapa yang tidak marah jika agamanya dibenci?
Sekalipun Kalimantan Barat bukan merupakan provinsi yang dapat menyumbangkan suara politik terbesar, tetapi akan mampu mengubah konstelasi politik di negeri ini. Dan Kalimantan Barat hanya permulaan, akan ada daerah lain lagi menunggu giliran digoreng-goreng.
Mari rapatkan barisan
Jangan bangga dengan ungkapan silent majority, yang waras diam, dan lain-lain, itu hanya meninabobokan. Kita masih yakin dan percaya bahwa di Indonesia ini lebih banyak warga yang waras, yang tidak rela NKRI ini dikuasai radikal, yang tidak ingin agamanya dijadikan alat politik. Tetapi tidak ada gunanya kebenaran jika hanya didiamkan. Diam itu bukan lagi emas. Diam itu bagi mereka adalah kotoran yang harus dibuang ke tempatnya.
Sekali lagi, tidak ada alasan di NKRI ini saling membenci. Sudah banyak tahun kita jalani tanpa mempersoalkan agamamu apa, etnismu apa, sukumu apa, dan gendermu apa. Yang jelas Anda warga Indonesia, Anda saudaraku. Anda Indonesia, Anda adalah bagian dari hidupku. Anda Indonesia, deritamu deritaku dan bahagiamu bahagiaku.
Kecuali jika Anda ingin membunuhku, maka aku harus membela diri. Kalau Anda ingin mengusik kedamaian bangsaku, maka Anda harus keluar dari negara ini. Kalau Anda mau menjadikan NKRI yang sangat kami cintai ini menjadi negara khilafah, silakan dirikan sendiri negara khilafahmu di surgamu sendiri, yang penting jangan di sini. Bagi kami, NKRI harga mati. Mengaku NKRI berarti harus siap berbineka, beragam, berbeda dan menerima orang lain beserta agama, suku, ras dan warna kulitnya.





0 coment�rios: