Tidak bisa kita percayai sepenuhnya ucapan seseorang yang baru saja mengalami kekecewaan yang begitu besar. Ketika seseorang dihantam ada...

Tidak Mungkin Ahok Akan Kembali Berbisnis Lepas Dari Hukuman, Ini Alasannya


Tidak bisa kita percayai sepenuhnya ucapan seseorang yang baru saja mengalami kekecewaan yang begitu besar. Ketika seseorang dihantam adai yang besar dan harus terdampar di sebuah pulau sendirian dan baru ditemukan dan diselamatkan beberapa bulan kemudian, pasti akan menimbulkan shock dan trauma. Apalagi jika serangan tersebut menghancurkan rasa percaya dirinya.

Perasaan hancur lebur juga pasti dialami oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bagaimana tidak, gara-gara ucapannya diplintir sedemikian rupa oleh Buni Yani sehingga berhasil memprovokasi umat Islam dengan dimotori oleh MUI dan FPI sebagai penggerak massanya. Ahok akhirnya terjungkal dalam Pilkada dan divonis menjadi seorang penista agama.
Kekalahan Pilkada Jakarta tidaklah begitu menyesakkan bagi Ahok. Meski harus kalah, Ahok sudah menyiapkan diri untuk menyelamatkan APBD DKI dan juga BUMD yang biasanya menjadi ATM bagi para partai pendukung dengan menempatkan orang-orangnya sebagai komisisaris.
Akibat kekalahan tersebut, Ahok memang sempat mengeluarkan pendapat bahwa kafir tidak boleh jadi pejabat di negeri ini. Tetapi hal itu tidaklah begitu mengubah semangatnya untuk terus bekerja sebagai Gubernur. Hal yang sangat luar biasa menghempas dan menghancurkan Ahok tidak lain dan tidak bukan adalah vonis sebagai penista agama.
Hal itu tentu saja mengakibatkan kondisi mental Ahok turun sampai tingkat terendah. Kenapa saya katakan begitu?? Karena dalam pembelaan awal sebelum sidang ini dimulai, Ahok sudah menyampaikan pembelaannya yang membuatnya begitu sangat sedih karena dituduh penista agama. Ahok sampai harus menahan tangis karena dituduh menistakan agama orang tua angkatnya.
Kini, Ahok tidak lagi sekedar dituduh, tetapi sudah divonis oleh hakim. Vonis yang paling menyesakkan karena hakim memvonis bukan berdasarkan tuntutan Jaksa. Seperti petir di siang bolong, rasa tidak percaya dan shock bersatu padu, membuat Ahok yang bersemangat menjadi lemas tidak berdaya.
Hal ini bukan hanya tampak dari wajah Ahok yang terlihat lesu dan shock, tetapi juga bisa kita lihat dari pernyataan-pernyataan Ahok yang akan meninggalkan dunia politik. Sebuah pernyataan wajar setelah mengalami kekecewaan dan luka yang begitu dalam. Saya harus katakan, itu adalah pernyataan emosional sesaat.
“Dia enggak trauma berpolitik. Dia cuma bilang enakan bisnis daripada politik. Soalnya jadi Gubernur saja dia bilang bisa seperti ini, kalau bisnis kan lebih enak cari uang. Itu wajar dia memang dulunya kan pebisnis. Kira-kira seperti itu kata Pak Ahok tadi,” kata Teguh usai menjenguk Ahok di Mako Brimob, Selasa.
Menurutnya Ahok banyak cerita seputar aktifitasnya selama di Rutan Mako Brimob.
“Mulai dari baca kitab suci, olahraga, dan menulis setiap hari. Lalu cerita tentang rencana bisnis ke depan, bisnis yang paling baik apa saja. Bisa minyak, kelapa sawit dan lainnya. Seperti itu semua diceritakannya,” kata Teguh.
Meski mengaku tidak trauma, tetapi pilihannya yang tidak lagi memilih terlibat dalam politik bukanlah pilihan Ahok sebenarnya. Melainkan pernyataan Ahok yang sedang terluka. Bagaimana tidak terluka, gara-gara jadi Gubernur dan sedang melakukan pemberdayaan masyarakat dengan budi daya kerapu, malah divonis menjadi penista agama. Sangat menghancurkan.
Saya yakin Ahok tidak akan berani meninggalkan politik dan tidak mau lagi jadi pejabat. Kalau Ahok berani melakukan itu, maka Ahok harus berhadapan dengan wasiat Ayahnya yang menggerakkannya turun ke dalam dunia politik. Dia tidak akan tenang berbisnis karena terus diusik oleh nuraninya yang akan terus memintanya kembali menjadi pejabat. Karena Ahok panggilannya bukanlah seorang pebisnis, melainkan seorang pelayan masyarakat.
“Karena rakyat butuh kamu, Hok. Butuh apa, Pak? Muka minyak babi kayak kita, Pak,” ucap Ahok menirukan percakapannya dengan sang ayah.
“Marah bapak saya dengar ucapan saya seperti itu. ‘Saya ingatin kamu ya, kamu ngomong kayak gitu sekali lagi, ini tanah air kita, apa pun yang terjadi kita lawan. Kamu punya pabrik untung 1 juta dolar saja masih dikerjain, gimana rakyat miskin?'” beber Ahok mengulang kalimat ayahnya.
“Kata Bapak saya, ‘Orang miskin enggak menang lawan orang kaya, tapi orang kaya enggak akan menang lawan pejabat. Kalau kamu jadi pejabat, lawan mereka (pejabat) yang korup’,” tegas Ahok menuturkan ucapan sang ayah.
Cerita Ahok inilah yang membuat saya yakin, dia tidak akan meninggalkan politik. Ahok tidak akan diam dan bungkam ketika keluar dari penjara. Dia tidak akan tahan melihat rakyat miskin diperbudak dan dipermainkan oleh orang kaya. Rakyat miskin hanya jadi komoditi kampanye, tetapi pada akhirnya ditinggalkan saat seseorang menjadi pejabat.
Ahok tidak akan berani meninggalkan politik. Kalau dia berani, dia akan terus dihantui wasiat ayahnya tersebut. Ahok tidak akan mati meninggalkan dunia ini sebagai seorang pebisnis. Ahok harus mati dan martir meninggalkan dunia ini sebagai seorang pejabat dan politisi yang melawan pejabat dan orang kaya yang korup.
Jikalau nanti penangguhan penahanan Ahok tidak berhasil, serta banding tidak berhasil (hakim masih diragukan netral), serta sampai PK pun gagal, maka perjuangan harus tetap kita kerjakan. Kita tidak boleh melimpahkan semua perjuangan perubahan hanya kepada Ahok. Mulailah kita semua bergerak dan bersuara. Jangan takut dan bungkam melawan kaum intoleran dan pejabat korup.
Lakukan sesuai dengan pekerjaan dan jalan yang engkau pilih. Jangan takut berdebat mengenai ajaran Islam Nusantara dan ideologi Pancasila dengan mereka yang anarkis. Kita kendor, mereka akan semakin menginjak-injak NKRI dan ke-Indonesiaan.
Ahok membutuhkan semangat kita itu. Jokowi juga membutuhkan kekuatan kita itu. Kekuatan yang pada tahun 2012 dan 2014 berhasil membuat gerakan perubahan menuju Jakarta dan Indonesia Baru. Saatnya kita yang bergerak teman-teman. Mulai sekarang hanya satu kata kita serukan.. LAWAN!!.

0 coment�rios: