Silakan marah, menangis, mengumpat, luapkan saja emosi yang anda rasakan karena ketidakadilan yang anda saksikan di depan mata. Tetapi...

Perahu Negeriku, Perahu Bangsaku, Jangan Retak Dindingmu

Silakan marah, menangis, mengumpat, luapkan saja emosi yang anda rasakan karena ketidakadilan yang anda saksikan di depan mata.



Tetapi jangan sampai kepercayaan anda pada pemerintah yang baik justru goyah. Namun jangan sampai kecintaan anda pada negeri ini justru kandas. Karena, saudara-saudara, itu artinya gerakan radikal perusak kesatuan berhasil dua kali lipat.

Pertama, mereka berhasil membuat opini bahwa kesantunan penuh kepura-puraan bertopeng agama lebih penting daripada integritas. Di sinilah mereka berhasil mempengaruhi banyak orang beragama mayoritas untuk percaya bahwa Ahok penista agama Islam.

Semua perbuatan mulia dan baik lainnya dikalikan NOL. Akhirnya Ahok kini berada di balik jeruji. Kedua, mereka berhasil membuat sebagian besar rakyat percaya bahwa Presiden Joko Widodo diam, setuju dan mengijinkan ketidakadilan terjadi melalui vonis hakim yang menyatakan Ahok bersalah melakukan penodaan agama dan menghukumnya penjara selama dua tahun.


Untuk hal yang pertama, mereka belum menang, saudara-saudaraku. Ahok naik banding. Percaya saja masih ada harapan pada penegakan hukum di Indonesia. Doakan, dukung dan terus bersuara agar tekanan massa yang berpikiran miring itu tidak merajalela. Ahok belum boleh dilabeli sebagai penista agama karena putusan di pengadilan belum sah dengan adanya kata banding.
Untuk hal yang kedua, logikanya di mana? Yang menuntut Ahok, siapa? Yang menyidangkan Ahok, siapa? Yang hadir sebagai saksi ahli yang menyatakan benar bahwa ucapan Ahok menodai agama Islam, siapa? Lalu yang akhirnya memvonis Ahok bersalah, siapa? Mengapa ujung-ujungnya yang salah Presiden Jokowi? Presiden kita menghormati hukum dan prosesnya. Titik.
Benar, beliau dan Pak Ahok adalah sahabat baik dan dekat. Beliau tidak menggunakan kekuasaannya yang semena-mena pada lembaga yudikatif yang telah memvonis sahabatnya, seharusnya menjadi bukti bahwa Bapak Jokowi taat hukum dan UU.
Tuduhan kejam bahwa selama ini Pak Jokowi selalu berada di belakang Ahok setiap kali dia terbukti tidak bersalah, KANDAS. Yang dilakukan Bapak Joko Widodo sudah benar. Bukan malah sebaliknya. Seperti tim sebelah yang kebakaran jenggot dan sampai sekarang masih mangkir dari panggilan polisi. Tetapi cepat sekali menuntut keadilan dilakukan pada orang lain. Munafik.
Anda heran dengan keadaan negeri kita saat ini? Saya juga. Dan keheranan ini bukan pertama kalinya terjadi. Masih ingat lagu almarhum Om Franky Sahilatua yang berjudul Perahu Retak? Silakan cermati liriknya.
Perahu negeriku, perahu bangsaku menyusuri gelombang
Semangat rakyatku, kibar benderaku menyeruak lautan
Langit membentang cakrawala di depan melambaikan tantangan
Di atas tanahku, dari dalam airku tumbuh kebahagiaan
Di sawah kampungku, di jalan kotaku terbit kesejahteraan
Tapi ‘ku heran di tengah perjalanan muncullah ketimpangan
Aku heran, aku heran yang salah dipertahankan
Aku heran, aku heran yang benar disingkirkan
Perahu negeriku, perahu bangsaku, jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu, jangan terantuk batu
Tanah pertiwi anugerah Ilahi, jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi, jangan makan sendiri
Aku heran, aku heran, satu kenyang, seribu kelaparan
Aku heran, aku heran, keserakahan diagungkan
Aku heran, aku heran, yang salah dipertahankan. Aku heran, aku heran, yang benar disingkirkan. Ini sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. Hukum sudah lama diperkosa oleh mereka yang katanya melek hukum. Yang salah dibela mati-matian dan dilindungi. Yang benar dijatuhkan dan dicari-cari, bahkan diciptakan, kesalahannya supaya bisa dijebloskan ke penjara. Itulah yang melahirkan lagu ini yang diciptakan Franky pada tahun 1995. Pada masa rezim Soeharto.
Tetapi sebagai kaum minoritas, bukan pemandangan aneh atau unik lagi karena ketidakadilan sudah menjadi makanan sehari-hari saya. Belum lagi saya Batak! Waahhh… sudah kenyang dengan yang namanya rasis. Makanya dalam kaum saya sudah terkenal ucapan, “Sudah Kristen, Batak lagi.” Hahaha… Artinya level minoritasnya (baca: tidak dianggapnya) berkali-kali lipat. Itulah sebabnya dari dulu kaum saya tidak berkhayal akan menduduki posisi penting di negeri ini. Ahok sudah jadi bukti hidup, kalau kamu Kristen dan Cina (kaum atau suku minoritas), jangan bermimpi jadi pemimpin daerah apalagi negara.
Yang menangis dan protes dengan ketidakadilan yang terjadi pada Ahok adalah kami-kami yang minoritas ini. Setidaknya begitulah yang tampak pada beberapa teman saya yang ada di media sosial. Ah, wajarlah kalau kami yang menangis. Karena serangan pada Pak Ahok memang terasa bagai serangan untuk kami juga. Pupus sudah harapan akan ada keadilan untuk kami. Ke depan berarti kami tidak boleh bicara sembarangan. Karena bisa masuk penjara.
Keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang haus kekuasaan untuk menimbulkan rasa tidak percaya pada kepala negara. Yang sayangnya, dipercayai oleh beberapa teman saya sendiri. Mereka sampai memilih untuk golput pada Pilpres 2019 mendatang. Mereka beranggapan memilih Jokowi lagi tetap tidak ada perubahan, memilih yang lain tidak ada prestasi yang membanggakan. Jadi lebih baik golput. Ini bahaya sekali.
Saya sangat berharap ini hanya emosi sesaat. Wajar rasa duka yang mendalam membuat kita mengatakan hal yang tidak-tidak. Tetapi segeralah bangkit dan jangan berlama-lama berduka. Nanti semakin mudah masuk penyusup yang membisikkan kata-kata tidak benar yang memprovokasi rakyat untuk tidak percaya lagi pada pemimpinnya. Cerdaslah menganalisa keadaan, jangan biarkan perasaan yang menentukan tindakan kita. Sedih ini akan berkurang, tetapi semangat mencintai negeri harus semakin bertambah.
Lalu saya ditempeleng keras dengan pernyataan mereka yang bukan Kristen, Hindu atau Budha pada status-status maupun cuitan mereka. Ternyata kami tidak sendiri. Teman-teman yang seharusnya merasa agamanya telah dinodai oleh Pak Ahok beranggapan berbeda. Mereka juga ikut menangis dan hancur hati dengan vonis tersebut. Sampai-sampai membuat gambar RIP Keadilan di Indonesia. Yang akhirnya menyebar cepat di media sosial.
Ini yang harus kita fokuskan. Orang benar harus terus saling mendukung. Kita belum kalah. Kebenaran belum kalah.
Perahu negeriku, perahu bangsaku, jangan retak dindingmu. Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu, jangan terantuk batu. Keindahan lagu ini tidak hanya berisi protes dan keheranan penciptanya pada pemerintah pada masa itu. Dia juga menghayo-hayokan rakyat untuk tidak terpecah belah. Begitu juga yang kita alami saat ini. Selalu ada harapan, saudara-saudara. Bila kita bersatu dan melawan mereka. Tidak boleh lagi ada diam dan membiarkan. Lawan!
FPI, HTI, dan semua orang di balik mereka boleh berkoar-koar dan berpikir mereka berhasil mengintimidasi dan memecah belah kita. Pihak-pihak haus kekuasaan dan punya keinginan kuat untuk menguasai negara ini beserta kekayaannya boleh berpikir mereka hampir menduduki singgasana.
Ahok boleh mereka penjarakan, tetapi semangatnya mencintai negeri ini harus terus dikobarkan. Dia yang dicaci, dihujat, dibenci, sampai diancam akan dibunuh oleh saudara sebangsanya sendiri, masih begitu mencintai negeri ini. Mengapa kita yang merasakan solidaritas yang besar terhadapnya tidak melakukan hal yang sama?
Kalau kita bertanya pada Ahok, tentu dia akan berkata tetaplah mencintai Indonesia. Karena dalam perjuangannya, dia tidak pernah membenci rakyat yang dilayaninya. Yang dia lawan adalah usaha-usaha untuk mencuri uang rakyat. Yuk, kita terus mencintai negeri ini dan bersama-sama mempertahankannya beserta orang-orang benar yang memimpin kita tanpa kenal lelah.

0 coment�rios: