
Situasi di Jakarta membuat Tito merasa perlu untuk hadir di Jakarta. Maka sepertinya terjawab sudah, bahwa hal ini menjadi sebuah hal yang tidak mengherankan, mengapa teroris mengincar polisi selama ini. Sudah beberapa kali polisi menjadi incaran-incaran para teroris.
Kunjungan kerja sama antara kepolisian luar negeri yang seharusnya diikuti oleh Tito, terpaksa ditunda, karena aksi bom panci yang dilakukan oleh dua teroris. Selama ini kita melihat bahwa teroris ini merupakan sekelompok orang tanpa tujuan yang hanya ingin masuk sorga.
Ternyata kebodohan-kebodohan para sekelompok orang bodoh yang ingin sorga demi bidadari, ditunggangi oleh para cendekiawan dan orang-orang besar yang ada di balik seluruh konstelasi ini. Maka tidak heran jika kita melihat bahwa selama ini, incaran para teroris adalah polisi, polisi, dan polisi.
Apakah mereka betul-betul berperan sebagai serigala yang sedang kesepian atau lone wolf? Saya memprediksi bahwa para teroris yang rela menghabisi nyawanya sendiri, sekali lagi ditunggangi oleh para elit politik busuk yang baunya seperti kerak neraka. Bau kentut sudah mulai tercium, apalagi ternyata bukan hanya kentut, melainkan “kompet-kompet”nya pun ikut keluar.
“Republik Islam Iran bisa mentransfer pengalaman-pengalamannya kepada negara sahabat dan Muslim Indonesia terkait pemberantasan terorisme, narkoba dan cyber space,” – Kepala Kepolisian Iran Brigadir Jenderal Hossein Ashtari
Keberadaan Tito di dalam kerjasama Polri dengan pihak keamanan Iran, menjadi salah satu kunci di dalam kita mengerti mengapa selama ini para teroris hanya mengincar polisi. Kepolisian Republik Indonesia ternyata memiliki nama yang cukup baik dan ditakuti. Alih-alih mereka menakut-nakuti polisi, justru para teroris semakin menunjukkan ketakutan mereka kepada pihak kepolisian.
Kepala Kepolisian Iran lebih lanjut menekankan perluasan hubungan antara polisi interpol dan ekstradisi pelaku kejahatan. Wah bisa saja ini menjadi sebuah penyebab kejang-kejangnya para teroris di Indonesia untuk menghantam kepolisian RI.
Lagi-lagi, ISIS kalah strategi. Strategi dan cara bermain ISIS sudah mulai terbaca, yaitu mereka menyerang siapa yang mereka takuti. Selama ini kita tahu bahwa rekam jejak Kapolri muda tercinta, Tito Karnavian, baik dan cenderung sempurna.
Maka para teroris yang melihat kejadian ini, ingin memberikan efek kejut kepada Indonesia, dengan berencana menghancurkan citra kepolisian. Dengan menakut-nakuti warga, para teroris yang ditunggangi oleh elit politik bangsat ingin membuat citra kepolisian Indonesia rendah. Para pemain busuk belakang layar ini ingin masyarakat curiga kepada pihak komando keamanan di Indonesia.
“Iran sebagai sebuah negara Muslim memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan keamanan Indonesia, dan hingga sekarang tidak ragu-ragu untuk memberikan bantuan-bantuannya,” – Kapolri Tito Karnavian.
Gatot sebagai panglima TNI, sulit untuk digoyang, karena memang sejatinya anggota TNI diberikan “hak istimewa”, yaitu tidak memiliki hak politik sama sekali. Kita tahu bahwa para anggota TNI memegang senjata, maka hak untuk berpolitik yang dicabut, menjadi sebuah hak yang memaksa TNI untuk netral dan tidak membela siapapun, kecuali rakyat Indonesia.
Mereka yang tidak berani menggoyang TNI, mulai mencoba-coba untuk menggoyang kapolri. Mereka tahu bahwa ujung tombak keamanan Indonesia ada di Polri dan TNI. Maka sangatlah masuk akal jika para teroris justru ingin menghilangkan kepercayaan warga, dengan menghantam polisi. Inilah yang dilakukan oleh para elit yang ingin Indonesia goyang.
Pada akhirnya, Presiden Joko Widodo lah yang paling terancam, dengan keberadaan teroris ini. Maka kita tentu harus berharap dan mendukung Kepolisian dan TNI di Indonesia untuk senantiasa menjaga konstitusi di Indonesia dan menjaga masyarakat Indonesia dari pihak-pihak yang ingin Indonesia jatuh.
Selama ini kita tahu bahwa negara yang paling gencar memerangi ISIS salah satunya adalah Iran. Kerjasama Indonesia dan Iran di dalam memerangi ISIS adalah sebuah kerjasama yang sangat penting. Tentu para simpatisan ISIS tidak akan tinggal diam.

Mereka pun akan bereaksi untuk melemahkan kepolisian. Sistem khilafah yang diagung-agungkan oleh para anggota dan petinggi ISIS, menjadi sebuah sistem yang ingin ditanamkan di setiap negara. Apakah kita akan melihat sepak terjang Komnas HAM untuk justru malah membela teroris, yang menghilangkan hak hidup orang banyak? Ataukah Komnas HAM ada di sisi kepolisian, bekerja sama untuk menghantam seluruh otak para kaum ekstrimis dan garis keras yang ada? Semua jawaban ada di mulut para komisioner Komnas HAM.





0 coment�rios: