Zakir adalah orang berbahaya yang telah dilarang di sejumlah negara karena dinilai bekerja sama dengan organisasi teroris. Zakir yang be...

Jusuf Kalla Kemarin Membela Zakir Naik, Sekarang Ragu Bom Kampung Melayu Ulah ISIS


Zakir adalah orang berbahaya yang telah dilarang di sejumlah negara karena dinilai bekerja sama dengan organisasi teroris. Zakir yang beberapa saat yang lalu sempat berdakwah di Indonesia, dan dia memang merupakan buronan di India.
Organisasinya, Islamic Research Foundation (IRF) telah dilarang di India. Pada November 2016 lalu, media India melaporkan bahwa Badan Investigasi Nasional negara itu (NIA) telah melakukan penggerebekan di beberapa properti komersial dan residensial yang dimiliki oleh Dr Zakir.
Pejabat NIA menyita beberapa dokumen yang diduga menunjukkan bahwa IRF telah mensponsori para calon militan untuk melakukan perjalanan ke Suriah guna bergabung dengan kelompok radikal ISIS. Selain India, sejumlah negara seperti Bangladesh, Kanada dan Inggris juga telah melarang Zakir.
Namun dari informasi yang cukup detail seperti itu, Jusuf Kalla memberikan respon bantahan terkait tudingan yang melekat pada Zakir Naik
Jusuf Kalla Membela Zakir Naik
“Kalau dia membantu ISIS, sudah pasti ditangkap dimana-mana, kemana dia pergi,” jelas Kalla di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (7/3/2017).
Sudut pandang perspektifnya Jususf Kalla ini cukup unik, dari pemberitaan yang sudah jelas-jelas ada disetiap hampir media online India, Jusuf Kalla memberikan sebuah logika bantahan terkait tudingan tersebut.
Kejadian yang sama terulang kembali hari ini
Kapolri Tito Karnavian nyatakan, pelaku bom Kampung Melayu teridentifikasi sebagai jaringan Bahrun Naim & terafiliasi dgn ISIS. berikut video siaran persnya:
Tidak hanya itu, media Reuters sudah melakukan pemberitaan sehari yang lalu, mengenai informasi sebagai berikut:
Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
“Eksekutor serangan terhadap polisi Indonesia di Jakarta adalah pejuang ISIS,” demikian pernyataan ISIS melalui kantor berita Amaq, yang dikutip dari Reuters, Jumat (26/5/2017).
Sebuah media internasional yang sudah cukup populer sejak lama menginformasikan tentang perang dimanapun diseluruh dunia, seharusnya sudah jelas bahwa media seperti ini, tidak perlu lagi dewan verifikasi pers Indonesia, dan media ini sudah cukup bisa diakui bahwa datanya adalah valid bukan Hoax
Tapi lagi-lagi JK membuat sebuah opini pribadi terkait kasus ini.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyangsikan klaim Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atas aksi ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Kalla mengatakan klaim sepihak biasa dilakukan ISIS dan kelompok teror lain untuk memperlihatkan eksistensi mereka.
“Belum tentu juga kan, susah diklarifikasi,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat 26 Mei 2017
Sebenarnya apa yang dicari JK dengan berpendapat seperti itu? Kalau orang mengatakan diam adalah emas, sayangnya JK tidak melakukan hal tersebut, JK kerap beragumen dengan logikanya, sama seperti saat dirinya membela Zakir Naik.
JK bukan seperti sumbu pendek yang belum membaca sebuah berita fakta yang ada, melainkan JK sudah mengetahui pemberitaan tersebut, tapi walau JK sudah tau, tetap dia kerap membantah, dan juga meragukan.
Terkait meragukan ISIS Indonesia, artinya JK sudah menghina media Reuters dengan menggangap bahwa media tersebut adalah media hoax dengan mengatakan informasinya tidak bisa dipastikan, dan susah diklarifikasi.
Ada apa sebenarnya dari semua cerita ini? Menggapa JK kerap sekali membantah terkait argumen tentang ISIS yang ada.
Kalau pemberitaannya dilanjutkan maka kita akan semakin terkejut mendegar pernyataan JK, yaitu:
Bukan berarti jaringan atau sel yang dimiliki ISIS telah sampai ke Indonesia. Ia menekankan, semua teroris pasti memiliki pemikiran radikal. Tapi, belum tentu semua orang berpemikiran radikal itu teroris.
Apakah pak JK kurang update soal teroris Indonesia yang bernama Bahrun Naim? Sehingga pak JK mengatakan bahwa jaringan atau sel yang dimiliki ISIS belum sampai Indonesia?
Padahal sudah sangat jelas, ketika eranya tahun 2014 silam, Bahrun Naim kerap melakukan recruitment yang cukup besar di media sosial, facebook maupun twitter, Bahrun Naim mengajarkan paham bagaimana cara merakit bom, dan konsultasi apapun terkait aksi terorisme.
Dan pak JK mengatakan belum sampai ke Indonesia?
Dan untuk pemahaman yang terakhir, JK membolak-balikan sebuah logika, kalau radikal belum tentu teroris, padahal orang-orang radikal ini seharusnya sudah sangat keras pemahamannya, solusi bagi para golongan radikal bukan lagi dengan cara berbicara, melainkan adu fisik atau tindak kekerasan.
Dan apakah perbuatan seperti itu belum bisa dikatakan sebuah perbuatan teroris? Sekali lagi, apa kepentingan JK dalam mengkomentari hal ini dengan pendapatnya pribadi? Ini sudah 2 kali JK melakukan pembelaan dan menampik isu tentang ISIS. Mari kita berpikiran positif bahwa pak JK sedang berusaha untuk tidak membuat kegaduhan nasional tentang adanya ISIS, dan terakhir, bapak JK istirahat ya, tidak perlu repot-repot lagi.

0 coment�rios: