“Baby, I’m dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling you look perfect tonight”
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling you look perfect tonight”
Saya melihat Pak Ahok yang tersenyum-senyum sambil bernyanyi kecil. Well, Pak Ahok tidak fals kali ini. Aku bertanya padanya, “Pak Ahok? Kok malah nyanyi sih? Kami pada nangis nih, Bapak Kalah!”
Pak Ahok melihatku dengan tenang. Lalu menjawab, “Kalian mah Baperan!” Sialan! Aku bangun!
Mimpi malam ini menyadarkan saya bahwa Ahok sebenarnya sedang mendapatkan anugerah besar yang tidak semua orang mampu menerima. Dia sedang belajar menjadi pribadi sempurna. Setiap pribadi—pribadi terbesar dalam sejarah pasti mempunyai mengalami konflik-konflik terbesar yang harus dia hadapi untuk menjadi pribadi yang mendekati sempurna. Kisah biografi para nabi, kisah biografi para pendiri negara, para panglima dan patih terbesar dalam sejarah akan menjelaskan bahwa mereka, pribadi-pribadi terhebat dalam sejarah ini, akan mampu melewati konflik tersebut karena mereka mempunyai fondasi kuat untuk bertransformasi menjadi pribadi sempurna.
Fondasi ini bisa berbeda-beda bagi tiap individu. Ada yang mendasarkan fondasi tersebut pada Kitab Suci, ada pula yang mendasarkan fondasi kesempurnaan pada filosofi lokal (seperti Kejawen, Sunda Wiwitan, Marapu, dan lain-lain) atau pedoman-pedoman terentu yang memberi norma pada arah hidupnya.
Entah mengapa, setelah bangun dari mimpi tersebut saya seperti teringat satu ayat kitab suci Alkitab, kitab yang dipercayai pak Ahok sebagai pedoman hidupnya. Padahal saya bukan orang suci. Dosa saya segudang, berdoa bisa jadi setahun sekali. Tapi tidak ada salahnya saya buka lah ayat itu.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan;
(I Korintus 13:4-8).
Kasih tidak berkesudahan;
(I Korintus 13:4-8).
Sebagai seorang yang belajar sastra, saya tahu persis latar belakang penulisan surat tersebut sebenarnya adalah keadaan kacau balau jemaat Kristen Korintus pada waktu itu (sekitar tahun 55 M) karena ditimpa banyak pertikaian internal dan eksternal. Mengapa surat ini dibuat Paulus, karena ia ingin meneguhkan keadaan jemaat banyak yang mengalami lelah, egois, sombong, pemarah, dan segala hal yang berkebalikan dengan nasihat Paulus waktu itu akibat berbagai konflik di kota Korintus.
Paradoks itu nyata. Kadang demikianlah keadaan dunia. Sastra terbaik muncul di keadaan perang, langit paling cerah muncul setelah badai lebat, keindahan kehidupan baru terasa setelah melewati krisis bersama-sama. Dancing in the dark menjadi lebih sempurna menurut Ed Sheeran. Justru berdansa melewati kegelapan bersama dengan telanjang kaki akan lebih terkenang daripada dansa dengan sepatu mahal di aula berlampu terang yang sudah biasa. Seperti halnya pasangan sempurna adalah pasangan yang mau melewati suka-duka sehat-sakit bersama, bukan hanya bersama saat suka saja dan pergi saat sahabatnya mengalami gelapnya berduka.
Menurut pak Ahok, jalan manusia sempurna adalah dengan mengasihi. Titik. Mengasihi dengan segala resikonya. Tidak ada dendam. Cukup hanya mengasihi dengan segala resikonya. Mengasihi dengan sabar, murah hati, tidak cemburu selamanya sampai akhir hayat dikandung badan. Tidak ada kecuali, tidak ada tawar menawar, tidak ada ketentuan dan syarat berlaku. Mengasihi sesama, mengasihi bangsa, mengasihi musuh, mengasihi saudara-saudara yang masih terjebak dalam paham religius garis keras, mengasihi semua.
Penelitian dari George Sorel dalam bukunya Reflections of Violence mungkin memberikan kepada kita sedikit perspektif baru memahami jalan kesempurnaan Ahok. Sorel menjelaskan bahwa gagasan bahwa konflik (yang oleh Sorel disebut “kekerasan”) memberikan tekanan untuk melahirkan inovasi dan kreativitas. Seperti halnya periode “Enlightment” di Eropa (abad 18) lahir karena masyarakat ingin melakukan remidi terhadap sistem sosial religius yang terlalu mengekang kebebasan rakyat, sebuah sistem sosial membutuhkan konflik untuk memperbaharui energi dan merevitalisasi kekuatan kreatif. Semakin besar tantangan konflik mampu dihadapi, semakin kuat pribadi orang tersebut. Itulah mengapa hanya orang kuat dan dewasa yang berani melalui konflik dengan tenang.
John Dewey, tokoh pendidikan pragmatis, bahkan berpendapat bahwa konflik adalah pengganggu pikiran yang positif. Ini membangkitkan kemampuan kita untuk melakukan observasi dan menguatkan memori. Ini memicu penemuan. Ini mengejutkan kita dan mengharuskan kita keluar dari dunia pasif seperti domba dan membuat manusia mencatat dan merancang sesuatu. Konflik adalah “penyebab awal” dari refleksi serta kecerdikan.’
Refleksi saya terhadap ketegaran Ahok, konflik adalah penyebab utama kedewasaan pribadi, tahap awal kesempurnaan.
Penutup
‘Tidak ada yang tidak normal tentang gempa bumi. Bumi yang tidak tergoyahkan akan menjadi bumi yang mati. Sebuah gempa adalah cara bumi mempertahankan titik keseimbangannya, suatu bentuk penyesuaian yang memungkinkan kerak untuk menghasilkan ke tekanan yang cenderung untuk membenahi dan mendistribusikan bahan yang itu terdiri …. Semakin besar pergeseran, semakin kekerasan gempa, dan lebih sering bergeser, yang mengakibatkan semakin keras goncangan, semakin stabil bumi. Demikian juga masyarakat kita, semakin besar goncangan, semakin stabil masa depannya (Social Conflict theory, Karl Marx).
‘Tidak ada yang tidak normal tentang gempa bumi. Bumi yang tidak tergoyahkan akan menjadi bumi yang mati. Sebuah gempa adalah cara bumi mempertahankan titik keseimbangannya, suatu bentuk penyesuaian yang memungkinkan kerak untuk menghasilkan ke tekanan yang cenderung untuk membenahi dan mendistribusikan bahan yang itu terdiri …. Semakin besar pergeseran, semakin kekerasan gempa, dan lebih sering bergeser, yang mengakibatkan semakin keras goncangan, semakin stabil bumi. Demikian juga masyarakat kita, semakin besar goncangan, semakin stabil masa depannya (Social Conflict theory, Karl Marx).
Apakah gempa tersebut adalah sangat keras atau tidak, bagaimanapun telah membantu untuk mempertahankan atau membangun kembali keseimbangan bumi. Hal tersebut layaknya pergeseran gempa konflik hati antara saudara-saudara bumi bulat dan bumi datar yang sementara ini terus berlangsung. Kita lakukan konflik melawan kebodohan radikal dengan cara rasional dan tenang. Kita pastikan saja, sebagaimana Ahok yang “sudah selesai dengan dirinya”, konflik ini akan membuat kita semakin sempurna menjalani kehidupan.






0 coment�rios: