
Indonesiaku, tanah airku, Ibu Pertiwiku, begitu banyak cobaan yang terjadi belakangan ini padamu. Ketidakadilan terhadap salah satu anakmu yang berbakat dan berbakti, “gesekan – gesekan” antar anak bangsamu yang ingin menang sendiri dan yang terkahir harus sampai mengorbankan beberapa nyawa anak – anakmu akibat bom bunuh diri.
Salah satu anakmu yang telah menyerahkan jiwa dan raganya untuk Ibu Pertiwinya harus menerima perlakuan tidak adil dari anak – anak bangsa yang lain. Mereka seakan lupa bahwa kita semua lahir dan hidup di tanah yang sama, Indonesia. Mereka seakan lupa bahwa kita bersaudara sebangsa dan setanah air.
Sifat serakah dan haus akan kekuasaan seakan menghapus semua rasa solidaritas dan patriotisme semua anak – anak bangsa. Mereka hanya mementingkan golongan tertentu bahkan yang paling mengiris hati adalah mereka mendiskreditkan anak – anak bangsa lain yang tidak seagama dengan mereka.
Istilah mayoritas dan minoritas seakan begitu mudah muncul dari mulut anak – anak bangsamu. Bukankah harusnya kaum mayoritas merangkul dan melindungi kaum minoritas karena mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air.
Ingatlah wahai anak – anak bangsa yang masih belum “sadar”, ini bukan masalah mayoritas atau minoritas tetapi ini masalah integritas bangsa kita. Janganlah mau kita di adu domba sedemikian mudahnya oleh segelintir orang yang berkedok agama, suku, ras maupun golongan. Kita semua sama dimata Ibu Pertiwi kita, semua mempunyai KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang sama baik bentuk maupun warnanya dan kita semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap tanah air tercinta kita ini.
Salah satu anak bangsamu yang jujur, bersih dan bekerja untuk anak – anak bangsa yang lain secara tulus tanpa meminta imbalan telah berakhir didalam jeruji besi atas tindakan yang tidak beliau lakukan. Tetapi beliau rela melepas semua dan memaafkan anak – anak bangsa lain yang telah memperlakukan beliau secara tidak adil. Beliau belajar menerima dan mengampuni, betapa besar pengorbanan beliau untuk Ibu Pertiwi ini. Semoga anak – anak bangsa yang lain dapat belajar bagaimana mencintai Ibu Pertiwinya dengan sepenuh hati.
Demo berjilid – jilid yang tidak ada hentinya atas nama agama memicu munculnya demo tandingan atas nama keberagaman dan kebhinekaan. “Gesekan” yang tiada hentinya terjadi di berbagai lapisan masyarakat, yang berteman pun mulai menjauh karena beda pandangan dan pilihan padahal berbeda pandangan dan pilihan adalah hak setiap orang, kenapa harus dipaksakan sedemikian rupanya bahkan sampai harus melibatkan agama, suku, ras dan golongan.
Gesekan” yang menurut pendapat Presiden kita menghabiskan energi dan membuat kita tidak produktif harus dihentikan dengan segera. Apabila terus dipaksakan makan tidak akan ada pemenang sejati. “Menang jadi arang, kalah jadi abu” adalah istilah yang sangat relevan dalam menanggapi “gesekan” yang terjadi belakangan. Janganlah kalian anak – anak bangsa memaksakan suatu kehendak atas nama agama, suku, ras maupun golongan. Ingat kita semua bersaudara sebangsa dan setanah air.
Janganlah sampai keserakahan akan harta dan kekuasaan membutakan mata hati kita semua. Janganlah sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan sementara yang tidak abadi. Harga yang harus dibayar sangatlah mahal kalau sampai keserakahan akan harta dan kekuasaan sampai mencabik – cabik sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita ini.
Jika kalian semua mencintai Ibu Pertiwi ini, marilah bersama membangun negeri ini ke arah yang benar. Jika pemerintahan mempunyai tujuan mensejahterahkan rakyatnya maka kita wajib mendukungnya tapi jika pemerintah tidak peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya maka kita wajib bersuara untuk menentangnya.
Teror bom bunuh diri di Kampung Melayu telah memberikan kita peringatan yang penting bahwa negeri ini belum lepas dari paham radikalisme dan terorisme. Ternyata masih ada anak bangsa yang masih terjebak di dalam lingkaran hitam terorisme. Mereka semua rela mati dengan cara yang salah karena mereka di doktrin bahwa kematiaan mereka akan membawa berkah “surga” untuk mereka.
Tiga anak bangsa yang membaktikan diri mereka sebagai pelindung dan pengayom masyarakat (polisi) harus wafat dalam tugas mereka. Mereka sedang bertugas menjaga saudara – saudara sebangsa dan setanah air yang lain pada saat mereka melakukan pawai obor. Sayangnya masih saja ada segelintir oknum anak bangsa yang lain yang menggunakan peristiwa bom ini sebagai ajang fitnah baru.
Sejujurnya, saya bahkan kalian semua pasti pernah berpikir kemana kita akan pergi ketika kita mati nantinya. Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan ini karena semua yang mati tidak akan kembali hidup dan menceritakan kemana mereka pergi setelah mati. Lalu apakah benar kalau kita mati jihad dengan membunuh saudara – saudara yang lain maka kita akan masuk surga. Anda yang waras pasti bisa menjawabnya.
Menurut pandangan hidup saya, yang pasti selama kita masih hidup di dunia ini, berikanlah sesuatu yang berharga untuk orang lain. Kita harus saling menjaga dan melindungi satu sama lain karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Urusan surga atau neraka, biarlah Tuhan Yang Maha Esa yang menilainya atas apa yang kita lakukan.
Sekali lagi saya tegaskan bahwa sudah cukuplah Ibu Pertiwi kita berdarah – darah karena ulah anak – anaknya yang “bandel”. Sudah saatnya kita bangun dan sadar dari semua keslahan kita ini. Marilah bergandengan tangan membangun negeri ini tanpa adanya perbedaan agama, suku, ras dan golongan. Darah kita semua berwarna merah dan tulang kita semua berwarna putih seperti bendera kita Sang Saka Merah Putih.





0 coment�rios: